WARNA KANVAS ALAM

Tubuh tua renta mematung pilu
Di tepian selimut hitam aspal kokoh
Menerawang kosong gurat kehidupan seberang
Tembok-tembok raksasa berdiri memadat,
Kepul asap hitam memayungi.
Pancuran kehidupan manusia mengalir sesak,
Meluluhratakan wajah hijau bukit alam.

Air mata sang tua mengembun di pelupuk
Ingatan memancing kenangan lalu.
Kala tubuh masih kecil lugu

Bersenandung di bawah pohon hijau lebat,
Menyapu peluh dengan air jernih sungai,
Asyik dengan mainan alam,
Selepas membantu Abah bertandang ladang.

Begitu mengakar dalam rentang waktu hidup.
Mengembang senyum meski beralas kemiskinan.
Ciptakan pribadi mandiri meski hanya titisan darah rakyat.
Keringat semangat jiwa menggapai ilmu,
Petuah bijak sahabat alam.

Kini panorama itu lebur.
Ladang hijau habis tertimbun kehidupan.
Anak-anak sungai teredam keruh.
Bising senjata, traktor peluluh hewan alam.
Langit dunia pelan menggelap gulita,
Gubuk atap jerami tempatnya mematut kini,
Menjadi tanah tandus kering.

Tuhan,,,,
Inilah warna kanvas alam kami
Terluka penuh nanah,,,
Perih.
Menangis darah,,,
Nyala merah amarah.

Alam telah tersakiti.
Poros pelan mulai goyah,
Umpan bencana, siap menyeruak,
Namun Hingar bingar ratapan alam hanya hembusan bayu,
Hamba hanya sibuk berlomba duniawi,
Acuh tak peduli.

Tuban, 20 Agustus 2009
Lomba DinBud 2009

0 komentar:

Komentar merupakan kritik membangun dengan kalimat kata yang baik.